Pengembangan Inovasi MANINDU untuk Ikan Nila di Karo, Ini Berbagai Keunggulannya

banner 468x60

KARO, SUMUTBERITA.com – Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Karo kembangkan inovasi MANINDU atau maskulinisasi ikan nila dengan madu. Inovasi ini punya banyak keunggulan, salah satunya berhasil meningkatkan nisbah kelamin jantan pada ikan nila.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Karo, Sarjana Purba didampingi Kepala Bidang Produksi Perikanan, Ramona M Ginting kepada wartawan, Selasa (25/3/2025) menerangkan, inovasi MANINDU sudah dilaksanakan sejak tahun 2024 lalu.

banner 336x280

Ia memaparkan, MANINDU adalah teknik perendaman benih ikan nila (nener) usia 5 sampai 7 hari dengan madu sebagai bahan perendaman. Dari hasil percobaan, didapat hasil manfaat meningkatnya persentase sebesar 22 persen jenis kelamin jantan ikan dengan nama latin oreochromis niloticus ini.

Dinas Ketapang dan Perikanan melakukan pengembangan inovasi MANINDU di Balai Benih Ikan Desa Singgamanik, Kecamatan Munte, Kabupaten Karo. SUMUTBERITA.com/ istimewa

“Dari uji coba yang kita laksanakan pada benih nila yang tidak direndam dengan madu, persentase jantannya kurang lebih 64 persen. Sedangkan perendaman dengan 15 ml/liter madu persentasenya mencapai 86 persen,” jelas Sarjana.

Ia menyebut, inovasi MANINDU punya banyak keuntungan. Dari sisi bahan, lebih mudah didapat karena menggunakan bahan alami berupa madu. Selain itu, keseragaman benih ikan nila jantan dapat mengurangi biaya produksi pakan. Dimana dalam proses pembesaran, ikan nila jantan cenderung lebih cepat.

“Setelah percobaan yang kita buat, didapati hasilnya cukup bagus dan lebih tahan terhadap penyakit. Proses pembesaran ikan nila juga menjadi lebih cepat apabila mayoritas jenis kelaminnya jantan,” ujarnya.

Untuk lama perendaman, kata Sarjana, telah melakukan uji coba dengan waktu yang berbeda yaitu 12 jam, 14 jam dan 16 jam. Dari uji coba itu, didapatkan hasil bahwa perendaman larva ikan nila dengan konsentrasi 15 ml/liter air selama 14 jam adalah hasil terbaik.

“Benih ikan nila yang telah direndam dengan madu selanjutnya dilakukan pemeliharaan selama 30 hari dan kemudian dilakukan pengecekan jenis kelamin menggunakan mikroskop,” paparnya.

Lebih lanjut dijelaskan, hingga saat ini inovasi MANINDU masih dikembangkan di Balai Benih Ikan (BBI) Desa Singgamanik, Kecamatan Munte, Kabupaten Karo. Untuk selanjutnya akan diterapkan ke masyarakat dengan melakukan uji coba dan pelatihan terlebih dahulu.

“Madu yang digunakan ialah madu yang bukan pabrikan dan diperoleh dari masyarakat. Selain menggunakan madu, proses maskulinisasi bisa juga dilakukan dengan menggunakan hormon steroid, seperti hormon ametiltestosterone,” katanya

Meski demikian, lanjut Sarjana, berdasarkan surat keputusan Menteri Kelautan Perikanan KEP. 20/MEN/2003 yang diperbaharui KEP. 52/MEN 2014 bahwa hormon tersebut masuk dalam klasifikasi obat keras.

Sementara, Kepala Bidang Produksi Perikanan, Ramona M Ginting menambahkan, keuntungan dari inovasi MANINDU yakni, ikan nila jantan lebih cepat besar daripada betina. Hal itu disebabkan ketika mencapai berat 100-200 gram, pada jantan fokusnya ke pertumbuhan dan makan lebih kuat.

“Sedangkan pada betina, setelah mencapai berat 100-200 gram, ikan tersebut akan kawin dan mengeram di mulut selama 2 minggu. Pasti dia tidak makan lagi, atau kurang makan. Nah, ini yang menyebabkan pertumbuhan pada ikan betina lebih lambat,” ungkap Ramona.

PENULIS: RED

banner 336x280